Rabu, 22 Februari 2017

Kegiatan Pokok Pemberdayaan Masyarakat

Kegiatan pokok pemberdayaan masyarakat yang dapat dilakukan antara lain (Abdurrahman, 2010) :
1.      Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis melalui bantuan langsung masyarakat dengan pengusahaan ternak baik sapi, kerbau, kambing, kuda dan unggas.Tujuan  utama kegiatan ini telah bergeser dari tujuan sosial ke Development (Pengembangan) untuk pemberdayaan ekonomi petani, dari satu paket ke lebih dari satu paket dimaksudkan semata – mata untuk pemberdayaan ekonomi rakyat dan mengembangkan usaha agribisnis.
 kegiatan penyuluhan, pembinaan, temu usaha, pelatihan – pelatihan sehingga diharapkan terjadi perubahan pola fikir pelaku agribisnis menjadi lebih inovatif, kreatif dan mandiri.
3.      Promosi Investasi dan Penggalian sumber–sumber pembiayaan/ permodalan sebagai salah satu usaha mengatasi ketergantungan anggaran pemerintah dan kemandirian usaha agribisnis peternakan baik skala usaha kecil, menengah dan Koperasi. Substansi peningkatan layanan pembiayaan oleh Lembaga Keuangan Mikro, sepert KSP/USP, BMT, BPR/S, bank umum, dan PKBL-BUMN.    
4.      Penyederhanaan prosedur perijinan dan memperpendek

Beberapa Aspek Penting Dalam Pemberdayaan

Beberapa aspek penting yang perlu mendapatkan perhatian dalam pemberdayaan masyarakat petani peternak, antara lain :
a. Pengembangan organisasi/kelompok masyarakat yang dikembangkan dan berfungsi  dalam mendinamisir kegiatan produktif masyarakat, misalnya berfungsinya HKTI, HNSI , dan organisasi lokal lainya .
b. Pengembangan jaringan strategis antar kelompok/organisasi masyarakat yang terbentuk dan berperan dalam pengembangan masyarakat tani dan peternak, misalnya
asosiasi dari organisasi petani, baik dalam skala nasional, wilayah, maupun lokal.
c. Kemampuan kelompok petani dan peternak dalam mengakses sumber-sumber
luar yang dapat mendukung pengembangan mereka, baik dalam bidang informasi pasar, permodalan, serta teknologi dan manajemen, termasuk didalamnya kemampuan lobi ekonomi.
Di sinilah

Upaya Untuk Pemberdayaan Petani Dan Peternak

Upaya untuk memberdayakan petani peternak melalui wahana Kelompok Usaha Bersama Agribisnis masih dihadapkan pada berbagai permasalahan internal dan eksternal. Faktor internal adalah berasal dari dalam diri peternak itu sendiri dan factor eksternal yang berasal dari luar diri peternak. Adapun masalah yang dihadapi peternak yaitu ketersediaan pakan yang terbatas, skala usaha relative kecil, dan modal usaha yang kurang memadai. Kelemahan internal pun bermuara pada ketersediaan modal usaha. Artinya jika modal usaha memadai maka peternak akan mampu memperbesar skala usahanya secara intensif dengan menyediakan pakan yang cukup, sehingga akan mendukung pemeliharaan ternak yang berorientasi agribisnis.

Berbagai masalah yang dihadapi peternak cukup menjadi kendala dalam mengembangkan usahanya. Adapun strategi pemberdayaan yang dapat ditempuh menurut Arifin (2009) adalah :
(a)    Mengembangkan usaha ternak melalui optimalisasi sumberdaya yang dimiliki, untuk meraih peluang yang ada berupa perluasan usaha
(b)   Mendorong terjadinya konsolidasi antar peternak
(c)    Melakukan

Pendekatan Dan Strategi Dalam Pemberdayaa

Beberapa pendekatan dan strategi dalam pemberdayaan masyarakat (Karsidi, 2008) menuju kemandirian petani dan nelayan, dapat ditempuh dengan berbagai upaya sebagai berikut:
a.       Memulai dengan tindakan mikro dan lokal.
Proses pembelajaran rakyat harus dimulai dengan tindakan mikro dan lokal, namun memiliki konteks makro dan global. Dialog mikro–makro harus terus menerus menjadi bagian pembelajaran masyarakat agar berbagai pengalaman mikro dapat menjadi policy input dan policy reform sehingga memiliki dampak yang lebih luas. Petugas pemberdayaan/pendamping masyarakat petani peternak seyogyanya diberikan kebebasan untuk mengembangkan pendekatan dan cara yang sesuai dengan rumusan tuntutan kebutuhan setempat/lokal di wilayah tugasnya masing-masing.
b.      Pengembangan sektor ekonomi strategis sesuai dengan kondisi lokal (daerah).
Karena

Pemberdayaan Petani Peternak Melalui Kelompok Usaha

Kelompok Usaha Bersama Agribisnis
Kegiatan pemberdayaan masyarakat harus mampu mengembangkan teknik-teknik pendidikan tertentu yang imajinatif untuk menggugah kesadaran masyarakat. Menurut Sikhondze dalam Karsidi (2008), orientasi pemberdayaan masyarakat haruslah membantu petani peternak (sasaran) agar mampu mengembangkan diri atas dasar inovasi-inovasi yang ada, ditetapkan secara partisipatoris, yang pendekatan metodenya berorientasi pada kebutuhan masyarakat sasaran dan hal-hal yang bersifat praktis, baik dalam bentuk layanan individu maupun kelompok. Sedangkan peran petugas pemberdayaan masyarakat sebagai outsider people dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu peran konsultan, peran pembimbingan dan peran penyampai informasi. Dengan demikian peranserta kelompok sasaran ( masyarakat itu sendiri ) menjadi sangat dominan.
Upaya pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan meningkatkan efisiensi dan produktifitas melalui pengembangan sumberdaya manusia, penguasaan teknologi dan penguatan kelembagaan serta perbaikan sarana dan prasarana ekonomi dan sosial. Upaya ini memerlukan
adanya kerjasama yang sinergis dari berbagai kekuatan pembangunan yang ada.

Karsidi (2008) menyatakan bahwa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat diwujudkan dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar pendampingan masyarakat, sebagai berikut :
1. Belajar Dari Masyarakat
Prinsip yang paling mendasar adalah prinsip bahwa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti, dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri.
2. Pendamping sebagai Fasilitator, Masyarakat sebagai Pelaku
Konsekuensi dari prinsip pertama adalah perlunya pendamping menyadari perannya sebagai fasilitator dan bukannya sebagai pelaku atau guru. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta ketersediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami keadaan masyarakat itu. Bahkan dalam penerapannya masyarakat dibiarkan mendominasi kegiatan. Kalaupun pada awalnya peran pendamping lebih besar, harus diusahakan agar secara bertahap peran itu bisa berkurang dengan mengalihkan prakarsa kegiatan-kegiatan pada warga masyarakat itu sendiri.
3. Saling Belajar, Saling Berbagi Pengalaman
Salah satu prinsip dasar pendampingan untuk pemberdayaan masyarakat adalah pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat. Hal ini bukanlah berarti bahwa masyarakat selamanya benar dan harus dibiarkan tidak berubah. Kenyataan objektif telah membuktikan bahwa dalam banyak hal perkembangan pengalaman dan pengetahuan tradisional masyarakat tidak sempat mengejar perubahan-perubahan yang terjadi dan tidak lagi dapat memecahkan masalah-masalah yang berkembang.